caDOKGi

Catatan Calon Dokter Gigi Stressss..!

Category Archives: CDG

Pilihan , masa lalu, harapan.

Terkadang hidup merupakan lebih dari sebuah pilihan.
Karena kita yang merencanakan namun DIA yang menentukannya.

Terkadang kita hanya bisa menerima,
Karena apa yang kita inginkan tak selamanya baik.

Hampir 3 tahun telah berlalu. Dan sekarang, ketika saya melihat kebelakang lagi
Memang benar kata orang,
Rencana tuhan indah pada waktunya.

3tahun lalu, jika gelap itu tidak pernah ada,
Maka sekarang tidak akan ada terang.

Terimakasih.
Untuk masa lalu yang pernah ada.
Musim semi untuk Masa kini.
Dan harapan untuk masa depan.

Advertisements

the three muskeeters and one….

kami semua di uji, ditekan sampai tak satupun bisa bernafas. Ya masing-masing dari kami membawa beban hidupnya masing-masing.

———

Yang seorang, ibu rumah tangga, dengan dua anak bandel yang kadang susah diurus, dengan pekerjaan yang mengharuskannya terkadang pergi keluarkota untuk sesuap nasi anaknya. dan ketika pulang kembali menjadi ibu rumahtangga seakan melupakan tugas dan pekerjaannya diluar. Dia sering terlihat lelah, tak jarang mengeluh. Dan tak berhenti berdoa, untuk dirinya, anaknya, suaminya. dia. penopang jiwa kami.

———

yang seorang, ayah atau bapak kami menyebutnya. pekerja keras. walaupun terkadang pendiam. hasil dari jerih payahnya tidak berdasarkan seberapa banyak dia berbicara, tapi dia selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan semua keluarga. Dia yang bertahan, bahkan ketika kami semua mulai kehilangan arah, mungkin karena tugas dan kewajiban sebagai kepala keluarga, sebagai pengarah. bekerja sepanjang hari, dan ketika pulang masih harus mengurusi orang tua yang masih menjadi tanggung jwabnya.

“membayar hutang” batinnya.

tapi pasti lebih dari itu, karena sudah sewajarnya seorang anak membalas budi orangtuanya, kan??

dia seorang bapak. yang tanpa mengeluh, walaupun kami tahu dia lelah, selalu ada ketika kami butuh. tidak kurang tidak lebih.

————

yang seorang, anak tertua. manja. tapi hatinya lebih keras dari baja. didikan lingkungan mungkin, pengalaman hidup yang membawanya kepuncak dari karirnya. nanti. walaupun kami tahu sekarang dia sedang tertatih, tapi nanti, dia lah yang paling bersinar. karena memang garis hidupnya. terkadang terlihat kehilangan kepercayaan, tapi dia selalu punya ibu yang siap membimbingnya. membantunya. mencemaskannya. walaupun terkadang dia tak peduli. :)) tapi dalam hati kecilnya lebih dari itu. dia hanya ingin diberi kebebasan. tanpa kehilangan rasa sayang. tapi, yang dia tidak tahu, terkadang kebebasan bisa menghancurkan. maka itu dibuat aturan.

———–

terakhir, anak terkecil. salamnya untuk mereka. 3 orang diatas. nanti. ketika kata tak lagi bisa terucap. dan hanya tulisan yang bisa menyampaikan semuanya.

bukannya dia pendiam. atau keras kepala. tapi hanya lelah dengan hidupnya sendiri. tak ingin mereka khawatir. tapi percayalah kalau dia peduli.  sedang berjuang, untuk hidupnya, dan untuk masa depan. berusaha untuk selalu optimis walaupun terkadang hidup membuatnya pesimis. yang penting sudah berusaha. dan semua akan baik-baik saja. :)

 

sedang mengejar mimpi…

Cerita ini dimulai dari perjalanan-perjalanan kecil yang sering saya adakan bersama teman-teman dulu. berpetualang ketempat pedalaman. dan mengambil gambar. entah bernarsis ria. ato saling narsis-narsisan.

dan entah sudah berapa lama waktu yang berlalu sejak saat itu, mimpi tentang sesosok pria yang memegang sebuah kamera besar ditangannya, bermain dengan cahaya, dan bekejaran dengan moment sudah mulai terukir di benak saya.

———-

kata orang, untuk hidup lama dan bahagia maka yang harus kita lakukan adalah mencintai pekerjaan yang kita lakukan dan mengerjakannya dengan penuh senyum.

kata tante evy, dalam usia muda kita harus berani keluar dari zona nyamannya hidup. Meski lelah dan tidak mengenakkan, masalah adalah guru yang terbaik yang pernah kita miliki.

dan saya, yang saat ini sedang mulai sibuk-sibuknya mengejar target pasien di klinik, terlebih lagi di klinik yang katanya nerakanya fkg, pedodonsia, berusaha untuk keluar dari zona nyamannya hidup.

saya sedang mengejar sebuah bayangan, angan-angan, mimpi yang sepertinya susah untuk menjadi nyata, tapi tak ada yang tak nyata dengan niat yang keras kan?? karena itu saya berani mengambil pekerjaan-pekerjaan ini. mengisi waktu kosong dan memanfaatkannya untuk belajar menjadi seorang fotografer profesional yang karyanya diminati oleh jutaan orang di seluruh dunia. *disiram air* *bangun nak!* :))

dan untuk itu, tulisan ini saya buat.

yang pertama untuk nanti, jikalau suatu saat saya ingin mengenang kapan pertama kalinya niatan ini dipublikasikan.

lalu sebagai pengingat ketika tujuan hidup saya mulai berubah dan tak menentu arah, saya membuat reminder ini, bahwa tujuan utama saya adalah menjadi seorang  dentist spesialis dan part time profesional fotografer. bukan sebaliknya.

dan terakhir, first launching :

it was….

you know, hidup itu gak selalu indah. Terkadang kita harus berani merasakan kepahitannya terlebih dahulu sebelum bisa bebas tersenyum.

————–

cerita ini bukan tentang sakit hatinya cinta atau apapun tentang itu, tapi hanya ingin membagi sebuah kenangan dimana tangan tuhan bermain didalamnya.

untuk sebuah kenangan…… *angkat gelas*

————-

Saat itu, jalanan orchard road baru saja habis diguyur hujan. Saya dan beberapa orang teman sedang menjelajahi dunia malamnya dari negeri singa. Negeri kecil dengan luas yang bahkan tidak lebih besar dari pulau tempat saya tinggal. Negeri dengan penduduk yang lebih sedikit dan lebih teratur dengan kota-kota bawah tanahnya dan tentu, dendanyaa..

Lampu-lampu natal malam itu benar-benar menambah keindahan orchard. Banyak pohon-pohon cemara besar berkelap-kerlip di sepanjang jalan. hiasan-hiasan santa, lengkap dengan kereta dan kijang penariknya.

dan saat itu, pertama kalinya pikiran saya benar-benar terbebas dari kamu.. :)

Saya tidak pernah menyangka akan mendapatkan kesempatan ini, berjalan disini, bertemu teman lama, teman baik saya waktu jaman sekolah dulu, dan saat itu hampir setahun rasanya saya masih berada dalam bayangan mu.

Mereka menganggap saya beruntung, teman-teman, orang tua, dan lainnya. Tapi mungkin saat itu hanya saya dan tuhan yang tahu, apa yang telah dan sedang saya alami saat itu. Berusaha mati-matian melupakan, terlebih menahan malu dari kebodohan yang sudah saya lakukan.

Ya, saya tahu kenyataan nya saat itu. Tapi entah kenapa saya tidak berhenti saat kamu menyuruh saya berhenti. malah terus berjalan dan berlari untuk mendapatkanmu.

I’m pathetic? yes…may be… Tapi saya tidak pernah menyesalinya, karena saya sudah berusaha maksimal, sebisa saya. Dan walaupun pada akhirnya sangat menyakitkan, Tapi saya bangga. saya bahagia. untuk diri saya yang tidak lagi menyembunyikan diri kalo saya menyukai seseorang.

Mengingat petuah nya steve jobs, tentang “connecting the dots”, Saya pikir saya sangat paham akan hal ini. Karena melihat kembali ke masa lalu, dan saya benar-benar tidak menyesal akan sakit yang pernah saya rasakan. dan memang benar, guru terbaik dari seorang manusia adalah rasa sakit yang dialaminya.

Mungkin, jika kamu tidak menolak saya berkali-kali saat itu, dan tidak sedikit saja memberikan kesempatan kepada saya saat itu saya tidak akan punya semua ini, kesempatan untuk melakukan apa yang saya inginkan apa yang saya cintai. Dan bahkan saya tidak akan pernah bermimpi, karena mimpi saya hanya akan dipenuhi oleh kamu.

Tuhan tahu itu, kalau saya belum siap. Dia tahu, kalo saya lebih bahagia pada akhirnya kalo kita tidak bersama. Dan saya bahagia sekarang. :)

Mimpi saya saat ini? untuk menjadi seseorang yang full time dentist dan part time fotografer.

————-

“Hoii..ngelamun aja..”

teman lama saya membuyarkan lamunan saya, saat itu kita sedang di MCD, mengisi perut dengan burger super gede dan daging yang lebih berasa enaknya ketimbang di indo.

“hahaha..gak kok, lagi ngeliatin orang lewat” saya membalas sambil asik mengunyah.

“kamu baik aja kan? dia bertanya, tampak sedikit khawatir.

“Tentuuuu!” saya menjawab diikuti dengan senyum terlebar saya. dari hati. :)

 

00.00 waktu singapore, dan tawa yang pecah malam itu untuk kita, 3orang yang baru saja melihat dunia luar, dan kamu teman baik saaya.

 

‘You’ve got to find what you love,’ Jobs says

‘You’ve got to find what you love,’ Jobs says

This is a prepared text of the Commencement address delivered by Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, on June 12, 2005.

I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That’s it. No big deal. Just three stories.

The first story is about connecting the dots.

I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?

It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: “We have an unexpected baby boy; do you want him?” They said: “Of course.” My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.

And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents’ savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn’t see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn’t interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.

It wasn’t all romantic. I didn’t have a dorm room, so I slept on the floor in friends’ rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:

Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn’t have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can’t capture, and I found it fascinating.

None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, it’s likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.

Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.

My second story is about love and loss.

I was lucky — I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation — the Macintosh — a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.

I really didn’t know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down – that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me — I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.

I didn’t see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.

During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I returned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple’s current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.

I’m pretty sure none of this would have happened if I hadn’t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don’t lose faith. I’m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You’ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking. Don’t settle. As with all matters of the heart, you’ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don’t settle.

My third story is about death.

When I was 17, I read a quote that went something like: “If you live each day as if it was your last, someday you’ll most certainly be right.” It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?” And whenever the answer has been “No” for too many days in a row, I know I need to change something.

Remembering that I’ll be dead soon is the most important tool I’ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure – these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.

About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn’t even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor’s code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you’d have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.

I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I’m fine now.

This was the closest I’ve been to facing death, and I hope it’s the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960’s, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.

Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: “Stay Hungry. Stay Foolish.” It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.

Stay Hungry. Stay Foolish.

Thank you all very much.

males!

kalo lagi males biasanya ngapain??

emm, main ps, ngenet, blogging sekali waktu, jalan-jalan, photo2 with frend, olahraga!

Tapi dari semuanya, yang paling saya suka itu tidur! :))

bukannya gimana, tapi dengan tidur kita bisa merefresh pikiran dan badan, walaupun kalo kebanyakan tidur kita bisa jadi letih lesu juga sih..

————

jadi saat ini, saya lagi malas, sedang berada di titik jenuh dari segala titik-titik yang ada di alam semesta.

malas mengerjakan kerjaan kampus, malas jalan-jalan, malas poto-poto, malas tidur juga, malas makan, malas semuanya deh.. bener-bener gak minat ngapain. apalagi pacaran, beehhh..paling males pokoknyaa.. #jomblongeles

hahah, gak tau kenapa ya, nasib percintaan saya sepertinya gak terlalu bagus tuh, tahun-tahun belakangan ini, ya berhubung sudah bertahun-tahun saya jomblo.. :))

sepertinya masih terikat janji saya untuk tidak pacaran sampai suatu event terjadi. dan tak disangka dan tak dinyana, GOD make it true. Setiap saya mendekati seorang wanitaaa.. cieeehh.. :)) ato juga misalnya di dekati… halaahh.. semuanya kandasss..tak berbekas..ditengah jalan.. hilang entah kemana..

seriously? ya serius! jadi sekarang saya memilih untuk pura-pura malas aja pacaran, ketimbang malah ngambang ditengah jalan? ya gak? hahaha.. #jomblongenes

Tapi bukan berarti tidak ada wanita yang tidak saya cintai loo..adaaaa.. banyak sihh.. eh???

sejujurnya saya juga bingung, mungkin ini yang namanya masa tenggang ya, masa dimana kita sedang tidak bisa mencintai tapi masih bisa dicintai.. seperti bisa ditelpon tadi gak bisa nelpon..

jadi begitu ada yang ngedeketin, jadi ragu..tunggu taun depan dehh yaa.. :))

——————

kok jadi ngomongin cinta sih??

iseng-iseng

oke, long time no see ya?? :))

apa kabar untuk diri sendiri?? tambah gemuk! tambah cubby! dan tambah sibuk! sampai ngupdate blog pun rasanya jadi sebuah berkah. :))

hmm…

selama sebulan bulan terakhir ini, saya disibukan dengan kejar target pasien yang deadline nya akan segera mencapai akhir. Dimana banyak masalah-masalah mulai bermunculan. Dari kegagalan-kegagalan, penolakan, dan keterlambatan. Kesabaran dan ketekunan, serta pengorbanan, ceileeee… seraasa diuji

———

Kadang-kadang saya merasa ragu dengan diri saya sendiri. Ya, dengan semua kekurangan saya, saya takut nantinya setelah keluar dari institusi ini dan menghadapi dunia nyata, bukan pertanyaan “apa yang akan kamu lakukan?” yang menjadi pikiran saya, tapi “apa yang bisa kamu lakukan?”

Karena jujur saja, terkadang ketika berada di klinik,kita hanya mengejar nilai-nilai, acc, dan bagaimana caranya pekerjaan yang kita selesaikan itu selesai tepat waktu dan kita bisa segera lulus. bahkan ada yang menghalalkan segala cara agar targetnya selesai.

yaaa, saya tidak bermaksud menghakimi ato mengatakan tindakan mereka (ato mungkin saya) buruk. Tapi ketika saya berpikir, “apa yang telah saya dapatkan disini?” saya merasa bingung menjawabnya. Oke saya tahu mengerjakan pasiennya. tapi, kita tidak dididik untuk bisa. Karena bisa itu hanya bisa kita peroleh dengan mencoba terus menerus dan belajar, sementara di sisi lain kita ditekan untuk segera lulus dan mempercepat prosesnya.

otomatis pola pikir kita berubah dong yaa… orientasi kita cuma bagaimana kita bisa menyelesaikan target klinik, buka pandai dalam menangani situasi-situasi dilapangan. Bukan berarti juga kita harus berlama-lama juga, tapi bagaimana mengoptimalkan waktu yang singkat tersebut agar kita bisa mendapatkan ilmu sebanyak-banyaknya.

ribet ya?? saya aja yang nulis bingung.. :))

———-

hemmm..tapi hidup tetep harus dijalani dan dinikmati, gak lupa bersyukur dan berdoa. banyak sih yang harus saya bilang, tapi dicicil dulu ahh… :))

 

Self Note!

Ketika kita berada dibawah, sebenarnya itu bukan hukuman untuk kita. Mungkin tuhan sedang mengingatkan kita, ato mungkin itulah caranya menjawab doa kita.

——–
“u’ll become stronger when u are being weaken.”

oke, saya gak tau apa itu bahasa inggris diatas artinya bener ato gak. Haha. Tapi yang saya maksud disini, kita akan menjadi kuat ketika kita sedang berada pada titik terlemah.

Dan, kenapa kelihatannya lebih keren rasanya kalo ditulis dalam bhs inggris ya? :))

——–

saya lalai, sempat meragukan NYA, dan mau seenak perut saya sendiri. Saya pikir semua baik-baik saja sampai saya enak-enakan bersantai. Dan ketika dijatuhkan baru tersadar kalo kita harus tetap berlari dengan keyakinan kalo semua akan baik-baik saja.

Bukannya berkeyakinan baik-baik saja sambil bersenang-senang.

—–

ini sedang ditulis di ruang tempat saya bekerja sebagai seorang asisten. sekarang sudah masuk ke tahun ke dua saya bekerja disini. Inget dulu pertama kali bekerja, grogi gila, alat ini gak tau prosedur itu gak tau. Toh seiring berjalannya waktu semua berlalu. Dan menjadi biasa. Mungkin ini yang dibilang bisa karena biasa ya.

——-

kadang-kadang saya ragu dengan apa yang saya lakukan saat ini. Saya? menjadi seorang dokter gigi? Haha..saya bahkan sampai saat ini masih meragukan kemampuan saya sendiri. Well, saya bukan termasuk orang yang cerdas ato setrampil teman teman saya yang lain. Bahkan untuk berbicara didepan umum pun saya masih grogi. Apa ini benar2 pilihan yang tepat? Dan ironisnya pertanyaan ini hampir ada di sebagian besar kepala anak-anak koas non koas yang pernah saya ajak ngobrol.

What are we doin here?!!

Well, untungnya saya masih percaya kalo setiap peristiwa pasti ada alasannya. Sperti pertanyaan “kenapa kita hidup?” demikian juga saya yang sedang menjadi cadokgi.

Jawabannya mungkin belum saya temukan sekarang, tapi untuk saat ini saya hidup dan ingin melihat kemana arah kehidupan ini akan membawa saya nantinya.

I’ll keep update! :)

ups..ada px..see ya next time! :))

Posted by Wordmobi

ini bukan ramalan!

brrr… gak pagi siang sore, malem apalagi.. dingin! Apa ini? jaman es udah deket? kiamat udah deket??

———-

Sory, tidak bermaksud untuk menakuti dengan kata-kata kiamat sudekat. Tapi toh banyak yang meramalkan kiamat akan datang di tahun 2012. Dan sekarang sudah di juni 2011. Well, tinggal menghitung bulan sampai 2012 tiba, dan bisa kita lihat apa yang terjadi.

Ahh, tenang sajo! tidak akan terjadi apa-apa. Saya percaya, pada saat bangsa maya membuat kalendernya dan memutuskan untuk berakhir di 2012 itu bukan karena mereka tidak bisa meramalkan apa yang akan terjadi di tahun 2012, tapi karena mereka pikir,

“ahh cukuplah toh 2012 masih lama, n gue gak bakal hidup sampe saat itu tiba. Capek gue ngeramal cuy!”

Santailah, dan jikalau pun kiamat itu datang, bagaimana menurut kalian itu akan terjadi? Gempa bumi? Gunung meletus? Banjir? ato yang kerenan dikit invasi planet lain? Tidak menutup kemungkinan, akan terjadi perang dunia ketiga yang akan meletus di daerah timur tengah? Sapa yang tahu ya? ini saya nanya ya, bukan prediksi.

Tapi kalo menurut saya, ada satu yang saya takutkan dari beberapa kejadian di indonesia belakangan ini. Tau kan lumpur di porong sidoarjo? Bayangkan! ketika semua lumpur-lumpur yang ada di bawah tanah bumi tersebut terbawa naik dan mengendap di permukaan, lalu apa yang tersisa untuk menyangga tanah diatas nya? Bruuuk! ambruknya situs itu beisa menyebabkan gempa dan kekacauan yang sangat luar biasa besar. Ato skenario lain, hujan besar yang turun terus menerus menyebabkan lumpur-lumpur tersebut mencair dan menyebabkan banjir bandang besar yang bisa memisahkan pulau jawa jadi 2.

Yup, saya sangat berharap ini semua tidak terjadi. Sangat berharap! Dan sekali lagi ini bukan ramalan!!!!

 

 

Teruntukmu :)

Saya bukan, orang yang romantis, mengajakmu makan ditempat yang wah, dan memberikan hadiah yang wah, sesuai dengan ukuran “wah” mu. Bukannya saya tidak bisa memberikanmu segalanya yang wah, tapi saat ini, ke “wah” an saya bukan milik saya sendiri. :)

—–

Saya bukan orang yang kamu inginkan untuk menjadi pendampingmu. Itu sudah pasti, karena bersamaku kamu pasti akan tersakiti. Lagi dan lagi. Karena aku, bukan orang yang tepat untuk hubungan semacam ini. itu sudah dibuktikan.

—–

saya bukan pemusik, bahkan untuk bermain musik dengan satu kunci nada pun saya masih berantakan. Bukannya saya tidak mau belajar, tapi saya telah berusaha, namun apa daya, bakat itu memang tidak ada. :)

Dan kamu, saya sayang kamu. mungkin kamu tidak sayang saya,atau bahkan tidak mengenal saya. Tapi hidup selalu menunjukan jalannya. Kalaupun kita memang tidak ditakdirkan untuk berdua. Kita tidak akan bertemu.

—–

hmmm, kamu, dosa termanis – kalo kata teman saya. Apa daya ya? kita memang tidak sejalan dan seiman. Bukannya saya tidak mau untuk mencoba. Berjuta kali hati saya membendung niatan untuk sekedar mengajak mu keluar, tidak sebagai teman tapi sesuatu yang spesial. Saya tidak akan mengikatmu, karena ikatan ini hanya akan membuat kita jauh. Karena kita mungkin, tidak punya masa depan. dan saya tidak ingin kamu ato saya menjadi pemain belakang, sembunyi-sembunyi dari masing-masing keluarga kita. Saya tidak ingin itu lagi. Jadi, saya tegaskan, wahai sang hati! berhenti merayu ku untuk mengajak nya keluar. ya dia, manusia air yang selalu tertawa. :)